Jakarta, 9 September 2026 – Perjalanan pulang Raditya Dika dari New York, Amerika Serikat, menuju Indonesia berubah menjadi perjalanan panjang setelah penerbangan yang ditumpanginya terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Komika, penulis, sekaligus kreator konten tersebut awalnya dijadwalkan kembali ke Jakarta melalui Doha, Qatar. Penerbangan dari New York menuju Doha berjalan tanpa kendala, tetapi situasinya berubah ketika ia melanjutkan perjalanan menuju Jakarta. Pesawat yang sudah terbang selama sekitar empat jam dan berada di atas wilayah Sri Lanka harus berputar balik karena Bandara Soekarno-Hatta tidak dapat menerima penerbangan akibat sebaran abu vulkanik. Raditya akhirnya harus menyusun ulang perjalanan dan mencari jalur alternatif untuk bisa kembali ke Indonesia.
Raditya menceritakan pengalaman tersebut melalui akun media sosial pribadinya. Ia berangkat dari New York menuju Doha pada Sabtu, 5 September 2026, dan penerbangan pada tahap pertama berlangsung normal. Setelah transit, ia kembali naik pesawat dengan tujuan Jakarta dan berharap perjalanan dapat dilanjutkan seperti jadwal semula. Namun, ketika pesawat telah menempuh sekitar setengah perjalanan dan berada di atas Sri Lanka, awak penerbangan mendapatkan informasi mengenai kondisi di Jakarta. Penutupan Bandara Soekarno-Hatta membuat pesawat tidak memungkinkan meneruskan penerbangan menuju tujuan akhir sehingga keputusan berputar kembali menuju Doha harus diambil.
Perubahan tersebut membuat Raditya harus berada di pesawat jauh lebih lama tanpa mendekati tujuan akhirnya. Pesawat telah terbang sekitar empat jam sebelum melakukan perjalanan kembali menuju Doha sehingga waktu tempuh yang dijalani menjadi berlipat. Ia menggambarkan pengalaman itu dengan gaya humor yang selama ini menjadi ciri khasnya ketika berbagi cerita kepada pengikut di media sosial. Namun, di balik candaan tersebut, perubahan penerbangan membuat sejumlah agenda yang sudah direncanakannya di Indonesia ikut terganggu. Raditya bahkan sempat menyampaikan permintaan maaf karena tidak dapat menghadiri sebuah acara yang telah dijadwalkan sebelumnya.
Setelah kembali ke Doha, Raditya mulai mempertimbangkan berbagai pilihan agar tetap dapat mencapai Indonesia. Salah satu opsi yang kemudian diambil adalah terbang menuju Singapura. Ia berharap dari negara tersebut tersedia penerbangan menuju Surabaya atau kota lain di Indonesia yang masih memungkinkan untuk digunakan sebagai jalur pulang. Dari kota alternatif, perjalanan menuju Jakarta dapat dilanjutkan menggunakan penerbangan domestik atau moda transportasi lainnya. Strategi tersebut dipilih karena belum ada kepastian kapan penerbangan langsung menuju Jakarta dapat kembali dilakukan secara normal.
Namun, rencana alternatif melalui Singapura ternyata tidak berjalan semudah yang diharapkan. Setelah tiba di sana, Raditya mendapati tiket penerbangan menuju sejumlah kota di Indonesia telah penuh. Banyak penumpang lain pada saat bersamaan juga berusaha mencari rute alternatif akibat gangguan penerbangan menuju Jakarta. Kondisi tersebut membuat ketersediaan kursi menjadi sangat terbatas. Raditya akhirnya kembali harus menunggu sembari memantau perkembangan operasional Bandara Soekarno-Hatta dan mencari kemungkinan penerbangan yang dapat membawanya pulang.
Masa menunggu di Singapura kembali diceritakan Raditya dengan pendekatan humor. Ia menggambarkan dirinya menghabiskan waktu selama beberapa hari sambil menunggu kabar mengenai pembukaan kembali bandara di Jakarta. Situasi tersebut menjadi pengalaman perjalanan yang tidak biasa karena rute yang seharusnya relatif sederhana berubah menjadi perjalanan melalui beberapa negara. Dari New York, ia terbang menuju Doha, sempat menuju arah Jakarta sebelum kembali lagi, kemudian melanjutkan perjalanan ke Singapura. Seluruh perubahan terjadi dalam waktu singkat dan sangat bergantung pada perkembangan aktivitas vulkanik serta keputusan keselamatan penerbangan.
Gangguan yang dialami Raditya merupakan bagian dari dampak besar erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap transportasi udara. Pada Minggu, 6 September 2026, operasional penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta sempat dihentikan setelah abu vulkanik terdeteksi dan dinilai dapat membahayakan keselamatan penerbangan. Gangguan juga terjadi pada sejumlah bandara lainnya dan memengaruhi lebih dari 1.500 penerbangan secara nasional. Sekitar 170 ribu penumpang dilaporkan terdampak oleh pembatalan, penundaan, maupun perubahan perjalanan. Kondisi tersebut membuat maskapai harus melakukan penyesuaian besar terhadap jadwal penerbangan domestik dan internasional.
Abu vulkanik menjadi ancaman serius terhadap penerbangan karena materialnya dapat mengganggu kinerja mesin pesawat serta berbagai komponen penting lainnya. Karena alasan keselamatan, penerbangan dapat dibatalkan, dialihkan, atau diminta kembali ke bandara keberangkatan ketika jalur menuju tujuan dinilai tidak aman. Keputusan pesawat yang ditumpangi Raditya untuk kembali ke Doha merupakan bagian dari prosedur keselamatan ketika situasi di bandara tujuan berubah selama penerbangan berlangsung. Dalam kondisi seperti itu, keselamatan penumpang dan awak menjadi pertimbangan utama meskipun konsekuensinya adalah perjalanan menjadi jauh lebih panjang.
Kabar yang ditunggu Raditya akhirnya datang setelah operasional Bandara Soekarno-Hatta kembali dibuka. Bandara utama Jakarta tersebut mulai kembali melayani penerbangan secara normal sejak Selasa dini hari, 8 September 2026, setelah sebelumnya terdampak sebaran abu Anak Krakatau. Begitu memperoleh informasi bahwa penerbangan menuju Jakarta kembali tersedia, Raditya segera mencari dan membeli tiket. Setelah beberapa kali perubahan rencana dan tertahan di luar negeri, kesempatan tersebut menjadi jalan baginya untuk menyelesaikan perjalanan pulang. Ia kemudian dapat meninggalkan Singapura dan terbang kembali menuju Indonesia.
Keberhasilan pulang tersebut disambut Raditya dengan ungkapan khas yang membandingkan perjalanannya dengan kisah Odysseus yang akhirnya menemukan jalan pulang. Candaan tersebut menggambarkan betapa panjang dan berliku perjalanan yang harus dijalaninya hanya untuk kembali dari New York menuju Jakarta. Pengalaman itu juga menarik perhatian pengikutnya karena menunjukkan dampak gangguan penerbangan dari sudut pandang seorang penumpang. Bukan hanya Raditya, sejumlah figur publik dan ribuan penumpang lainnya juga mengalami perubahan perjalanan akibat penutupan sementara bandara. Sebagian harus menginap lebih lama, mengganti penerbangan, mencari kota tujuan alternatif, atau melanjutkan perjalanan menggunakan jalur darat.
Pengalaman Raditya sekaligus menunjukkan bagaimana gangguan akibat aktivitas gunung api dapat menghasilkan efek berantai pada jaringan penerbangan internasional. Sebuah penerbangan yang sudah berada ribuan kilometer dari titik keberangkatan dapat mengalami perubahan rute ketika kondisi di bandara tujuan berubah. Penumpang kemudian harus berhadapan dengan persoalan ketersediaan tiket, jadwal penerbangan lanjutan, akomodasi, hingga perubahan agenda pribadi. Ketika gangguan terjadi dalam skala besar, kursi pada rute alternatif juga cepat terisi karena ribuan orang mencari pilihan perjalanan yang sama. Situasi seperti itulah yang dialami Raditya ketika mencoba menjadikan Singapura sebagai pintu alternatif menuju Indonesia.
Setelah melewati rute New York, Doha, Singapura, dan berbagai perubahan jadwal, Raditya Dika akhirnya berhasil kembali ke Indonesia setelah Bandara Soekarno-Hatta dibuka kembali. Perjalanan yang awalnya hanya membutuhkan transit reguler berubah menjadi pengalaman beberapa hari akibat dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Meski menghadapi penerbangan yang harus berputar balik dan tiket alternatif yang penuh, ia tetap membagikan pengalamannya dengan gaya santai dan humor. Cerita tersebut menjadi salah satu gambaran nyata mengenai luasnya dampak erupsi terhadap mobilitas masyarakat, termasuk penumpang penerbangan internasional. Bagi Raditya, perjalanan pulang dari New York kali ini pun menjadi pengalaman yang kemungkinan sulit dilupakan.




