Bogor, 11 September 2026 – Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, kembali membesar setelah tiupan angin kencang mempercepat penyebaran api di area tumpukan sampah. Kondisi tersebut membuat petugas gabungan meningkatkan upaya pemadaman agar kobaran tidak merambat ke zona lain maupun mendekati permukiman warga. Api yang sebelumnya sempat dapat dikendalikan kembali membesar karena material sampah kering sangat mudah terbakar dan bara masih tersimpan di bagian dalam tumpukan. Kepulan asap tebal juga terlihat dari sejumlah titik sehingga petugas harus bekerja dengan perlindungan pernapasan dan memperhatikan arah angin. Pemerintah daerah menempatkan penanganan kebakaran sebagai prioritas karena TPA Galuga melayani pembuangan sampah dalam jumlah besar setiap hari. Operasi pemadaman dilakukan tanpa henti dengan membagi personel ke beberapa sektor yang dinilai memiliki risiko penyebaran paling tinggi.
Angin menjadi salah satu kendala terbesar yang dihadapi tim di lapangan karena arah kobaran dapat berubah dalam waktu singkat. Ketika kecepatan angin meningkat, api yang berada pada permukaan tumpukan sampah dapat menjalar menuju material lain dan menghasilkan titik kebakaran baru. Percikan dari sampah terbakar juga berpotensi terbawa ke area yang sebelumnya sudah berhasil didinginkan. Situasi tersebut membuat petugas tidak hanya berfokus menyemprot titik dengan nyala terbesar, tetapi juga melakukan pembasahan pada kawasan di sekelilingnya. Langkah itu dilakukan untuk membentuk zona basah yang diharapkan mampu menghambat penjalaran api. Pemantauan arah angin terus dilakukan agar personel dan kendaraan pemadam tidak terjebak ketika kondisi kebakaran berubah.
Sekitar 600 personel gabungan dikerahkan dalam penanganan kebakaran TPA Galuga dengan melibatkan berbagai unsur pemerintah dan aparat. Tim terdiri atas petugas pemadam kebakaran, BPBD, TNI, Polri, Satpol PP, Dinas Lingkungan Hidup, tenaga kesehatan, serta unsur lain yang membantu operasi. Banyaknya personel diperlukan karena area kebakaran cukup luas dan membutuhkan penanganan dari berbagai sisi secara bersamaan. Sebagian petugas ditempatkan langsung di zona pemadaman, sementara personel lainnya mendukung distribusi air, pengamanan lokasi, pengaturan kendaraan, serta pelayanan kesehatan. Alat berat turut digunakan untuk membuka dan mengurai tumpukan sampah sehingga sumber bara yang berada di bagian dalam dapat dijangkau. Tanpa penguraian tersebut, air yang disemprotkan dari permukaan belum tentu mampu mencapai titik panas di bawah tumpukan.
Karakter kebakaran di tempat pembuangan sampah memang berbeda dibandingkan kebakaran bangunan biasa. Tumpukan sampah terdiri atas berbagai material yang dapat menyimpan panas dan menghasilkan gas mudah terbakar selama proses pembusukan. Api dapat bergerak melalui rongga di antara material dan tetap membara meskipun nyala di permukaan sudah tidak terlihat. Kondisi tersebut menyebabkan proses pemadaman membutuhkan penyemprotan air dalam jumlah besar sekaligus pembongkaran tumpukan menggunakan alat berat. Petugas harus memastikan setiap bagian yang telah ditangani benar-benar mengalami penurunan temperatur sebelum berpindah ke sektor lainnya. Pendinginan menjadi tahapan penting karena bara yang tertinggal dapat kembali menyala ketika mendapatkan pasokan oksigen dan terdorong angin kencang.
Pemerintah Kabupaten Bogor juga berupaya menjaga ketersediaan air selama operasi berlangsung. Mobil tangki dan kendaraan pemadam bergerak secara bergantian untuk memasok air ke area yang masih terbakar. Jalur kendaraan di sekitar TPA harus dijaga tetap terbuka agar proses pengisian dan distribusi air tidak terhambat. Alat berat ditempatkan pada titik strategis untuk membantu membuat akses menuju bagian tumpukan yang sebelumnya sulit dijangkau. Koordinasi antarpetugas dilakukan untuk menentukan bagian mana yang harus lebih dahulu dibongkar dan disemprot. Strategi tersebut diperlukan agar air tidak hanya membasahi permukaan, tetapi dapat masuk ke lapisan sampah yang menyimpan sumber panas.
Asap dari kebakaran turut menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi masyarakat yang tinggal di sekitar TPA Galuga. Pembakaran sampah campuran dapat menghasilkan berbagai partikulat dan zat yang mengganggu saluran pernapasan apabila terhirup dalam jumlah besar. Warga terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan riwayat gangguan pernapasan perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap bergerak menuju permukiman. Penggunaan masker juga diperlukan untuk mengurangi paparan partikulat selama kualitas udara terdampak kebakaran. Pemerintah menyiagakan tenaga kesehatan untuk mengantisipasi apabila masyarakat maupun personel pemadam mengalami gangguan kesehatan. Petugas yang bekerja langsung di dekat sumber api juga menjalani pergantian secara berkala karena paparan panas dan asap dapat menyebabkan kelelahan.
Operasional TPA menjadi persoalan lain yang harus dikelola selama kebakaran belum sepenuhnya padam. Galuga selama ini menjadi lokasi pembuangan sampah dari Kabupaten Bogor dan Kota Bogor sehingga gangguan operasional dapat memengaruhi pengangkutan sampah di dua wilayah tersebut. Kendaraan pengangkut perlu diarahkan ke area yang dinilai aman dan tidak menghambat pergerakan armada pemadam. Pemerintah juga harus memastikan aktivitas pembuangan baru tidak memperbesar beban pada zona yang sedang ditangani. Pengaturan tersebut membutuhkan koordinasi karena volume sampah yang masuk setiap hari tetap harus dikelola. Kebakaran dalam waktu lama dapat menimbulkan dampak berantai apabila proses pengangkutan dari kawasan permukiman dan pusat aktivitas masyarakat ikut terganggu.
Petugas juga melakukan penyekatan untuk mencegah kebakaran meluas menuju bagian TPA yang belum terdampak. Material yang berada dekat jalur api dapat dipindahkan atau dipisahkan menggunakan alat berat sehingga terbentuk jarak antara titik kebakaran dan tumpukan lainnya. Metode tersebut membantu memperlambat penyebaran ketika angin kembali menguat. Selain itu, area yang sudah padam terus diperiksa karena perubahan warna asap maupun peningkatan temperatur dapat menjadi tanda masih adanya bara. Pengawasan dilakukan sepanjang operasi dan tidak langsung dihentikan ketika kobaran utama berhasil dipadamkan. Tahap pendinginan diperkirakan membutuhkan waktu karena besarnya volume sampah dan banyaknya titik panas yang tersembunyi.
Kebakaran TPA Galuga sekaligus kembali menyoroti pentingnya sistem mitigasi kebakaran pada fasilitas pengelolaan sampah. Penumpukan material dalam volume besar dapat meningkatkan risiko terbentuknya gas metana dan sumber panas, terutama ketika cuaca kering berlangsung dalam waktu panjang. Pemantauan temperatur, pengelolaan gas, penyediaan sumber air, jalur akses kendaraan pemadam, serta pembagian zona penimbunan menjadi bagian penting dalam pencegahan. Pemerintah daerah juga perlu mengevaluasi penyebab awal kebakaran untuk menentukan langkah perbaikan setelah kondisi darurat selesai. Apabila ditemukan titik yang memiliki risiko tinggi, penataan ulang dapat dilakukan sebelum kegiatan pembuangan kembali berlangsung secara normal. Evaluasi tersebut diperlukan agar kebakaran dengan skala serupa tidak mudah terulang.
Tim gabungan kini terus berupaya mengendalikan seluruh titik api meskipun angin kencang membuat kebakaran kembali membesar di beberapa bagian TPA Galuga. Fokus utama operasi adalah menghentikan penjalaran, menjangkau bara di bawah tumpukan sampah, menjaga keselamatan petugas, dan mengurangi dampak asap terhadap masyarakat sekitar. Ratusan personel bersama kendaraan pemadam, mobil tangki, dan alat berat tetap disiagakan sampai kawasan benar-benar dinyatakan aman. Warga di sekitar lokasi diminta memperhatikan kondisi udara dan segera mencari pelayanan kesehatan apabila mengalami sesak napas, batuk berat, atau gangguan lain akibat paparan asap. Pemerintah daerah juga terus memantau arah angin karena perubahan cuaca dapat menentukan pergerakan asap maupun api. Pemadaman baru dapat dinyatakan tuntas setelah tidak lagi ditemukan bara dan titik panas yang berpotensi menyalakan kembali tumpukan sampah.






