Jakarta, 8 September 2026 – Presenter Ayu Dewi mengalami perjalanan panjang ketika hendak kembali ke Jakarta setelah menyelesaikan kegiatannya di Bangkok, Thailand. Erupsi Gunung Anak Krakatau yang berdampak terhadap operasional penerbangan membuat rencana kepulangannya berubah total. Ayu yang seharusnya terbang langsung dari Bangkok menuju Jakarta harus menghadapi penundaan hingga pembatalan penerbangan karena kondisi abu vulkanik. Setelah mencari berbagai alternatif, dirinya akhirnya mendapatkan penerbangan menuju Bali sebagai satu-satunya pilihan yang tersedia untuk kembali ke Indonesia saat itu. Namun, tiba di Pulau Dewata ternyata belum mengakhiri perjuangannya karena perjalanan menuju Jakarta masih harus ditempuh melalui rute yang lebih panjang.
Perjalanan tersebut bermula ketika Ayu berada di Bangkok untuk mendampingi putri sulungnya, Aqilah, mengikuti sebuah kompetisi internasional. Setelah kegiatan selesai, Ayu dan Aqilah dijadwalkan kembali menuju Jakarta pada Minggu, 6 September 2026 sekitar pukul 08.00 waktu setempat. Jadwal keberangkatan kemudian mengalami ketidakpastian dan mereka diminta menunggu hingga sekitar pukul 09.45. Penerbangan tersebut akhirnya dibatalkan sehingga Ayu harus mencari alternatif lain agar dapat segera kembali ke Indonesia. Situasi itu terjadi ketika gangguan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik Anak Krakatau sedang meluas.
Ayu kemudian berhasil mendapatkan tiket lain sekitar pukul 11.10 untuk penerbangan yang dijadwalkan berangkat pada pukul 12.40. Namun, penerbangan tersebut juga tidak dapat membawanya langsung menuju Jakarta karena operasional penerbangan ke ibu kota terdampak kondisi abu vulkanik. Dalam situasi tersebut, Ayu berusaha mencari rute lain yang masih memungkinkan untuk masuk ke Indonesia. Bali akhirnya menjadi pilihan setelah penerbangan menuju Denpasar tersedia. Keputusan tersebut diambil meskipun berarti dirinya harus kembali memikirkan cara melanjutkan perjalanan dari Bali menuju Jakarta.
Setelah melewati berbagai perubahan rencana, pesawat yang membawa Ayu akhirnya tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, sekitar pukul 17.55 WITA. Sebelum mendarat, pesawat sempat berputar di udara selama kurang lebih 15 menit karena lalu lintas penerbangan di landasan sedang padat. Kondisi tersebut terjadi ketika Bali menjadi salah satu tujuan alternatif bagi sejumlah penerbangan yang terdampak gangguan operasional bandara di wilayah lain. Ayu mengaku lega setelah akhirnya dapat kembali menginjakkan kaki di Indonesia. Meski demikian, dirinya masih berada cukup jauh dari tujuan akhir di Jakarta.
Setibanya di Bali, Ayu kembali mencari berbagai alternatif agar dapat melanjutkan perjalanan menuju ibu kota. Ia sempat mengecek ketersediaan penerbangan menuju Surabaya, Yogyakarta, Solo, dan Semarang dengan rencana melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api menuju Jakarta. Namun, ketersediaan penerbangan maupun pilihan perjalanan lanjutan ketika itu sangat terbatas. Banyak penumpang lain juga sedang mencari rute alternatif akibat pembatalan dan pengalihan penerbangan. Situasi tersebut membuat perjalanan yang dalam kondisi normal dapat ditempuh dalam beberapa jam berubah menjadi perjalanan lintas kota dengan waktu jauh lebih panjang.
Setelah mempertimbangkan pilihan yang tersedia, Ayu akhirnya memutuskan melanjutkan perjalanan melalui jalur darat dan laut. Ia bergerak dari Bali menuju Pelabuhan Gilimanuk sebelum menyeberangi Selat Bali menggunakan kapal feri menuju Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi, Jawa Timur. Pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 07.00 WIB, Ayu membagikan momen ketika dirinya sudah berada di atas kapal dalam perjalanan menuju Pulau Jawa. Dari Banyuwangi, perjalanan kemudian direncanakan berlanjut melalui jalur darat menuju Jakarta. Pilihan tersebut membuat perjalanan pulangnya jauh lebih panjang dibandingkan rencana awal menggunakan penerbangan langsung Bangkok-Jakarta.
Meski menghadapi berbagai kendala, Ayu berusaha melihat pengalaman tersebut dari sisi positif. Ia menyampaikan rasa syukur karena masih dapat menemukan jalan untuk kembali ke Indonesia di tengah ketidakpastian perjalanan. Pengalaman menunggu penerbangan, menghadapi pembatalan, berpindah rute hingga harus melanjutkan perjalanan menggunakan kapal dan kendaraan darat membuatnya kembali berbicara mengenai kesabaran dan rasa syukur. Ayu juga mengingatkan masyarakat yang sedang melakukan perjalanan agar selalu menjaga keselamatan. Kondisi tersebut menurutnya menjadi pengalaman yang memberikan banyak pelajaran di tengah situasi yang tidak dapat dikendalikan.
Ayu bukan satu-satunya figur publik yang perjalanan maupun aktivitasnya terdampak erupsi Anak Krakatau. Sejumlah selebritas juga mengalami pembatalan, perubahan rute, maupun penundaan perjalanan karena gangguan penerbangan. Raditya Dika, misalnya, mengalami kendala ketika penerbangannya dari Doha menuju Jakarta terdampak situasi abu vulkanik. Abidzar Al Ghifari juga harus mengubah rencana setelah penerbangannya dari Bandara Halim Perdanakusuma dibatalkan. Sementara Andien mengalami kendala penerbangan dari Semarang menuju Jakarta dan sempat membagikan pengalamannya ketika pesawat menghadapi situasi tidak biasa sebelum mendarat.
Gangguan tersebut terjadi setelah sebaran abu vulkanik Anak Krakatau memengaruhi jalur penerbangan dan memicu penghentian sementara operasional di sejumlah bandara. Abu vulkanik merupakan ancaman serius bagi penerbangan karena partikelnya dapat mengganggu mesin pesawat, sistem navigasi, serta mengurangi jarak pandang. Karena alasan keselamatan, maskapai dan otoritas penerbangan dapat membatalkan, menunda, atau mengalihkan penerbangan ketika jalur yang akan dilalui dinilai berisiko. Keputusan tersebut kemudian berdampak pada ribuan penumpang yang harus menyesuaikan jadwal maupun mencari moda transportasi alternatif. Kepadatan juga dapat berpindah ke bandara yang masih beroperasi karena menjadi tujuan pengalihan penerbangan.
Pengalaman Ayu memperlihatkan bagaimana gangguan penerbangan akibat bencana alam dapat menimbulkan efek berantai terhadap perjalanan penumpang. Pembatalan satu penerbangan tidak hanya mengubah jadwal keberangkatan, tetapi juga dapat memengaruhi ketersediaan tiket penerbangan lain, kereta api, hingga transportasi darat. Dalam kasus Ayu, rute Bangkok-Jakarta akhirnya berubah menjadi Bangkok-Bali sebelum dilanjutkan dengan perjalanan menuju Gilimanuk, menyeberang ke Ketapang, kemudian bergerak melalui Pulau Jawa. Perjalanan yang jauh lebih panjang tersebut dipilih karena terbatasnya alternatif transportasi udara pada saat itu. Kondisi serupa juga dialami banyak penumpang lain yang berusaha mencapai tujuan masing-masing.
Perjalanan pulang Ayu Dewi pada akhirnya menjadi salah satu gambaran dampak luas erupsi Anak Krakatau terhadap mobilitas masyarakat. Meski berhasil terbang dari Bangkok menuju Bali, dirinya masih harus menempuh perjalanan laut dan darat untuk kembali ke Jakarta bersama putrinya. Ayu memilih menjalani perubahan tersebut dengan tetap bersyukur setelah berhasil kembali ke Indonesia dalam keadaan selamat. Pengalaman itu juga membuatnya menyampaikan pesan agar masyarakat tetap berhati-hati dan mengutamakan keselamatan selama kondisi penerbangan belum sepenuhnya normal. Dari perjalanan yang awalnya direncanakan berlangsung singkat, kepulangan Ayu berubah menjadi perjalanan lintas pulau yang membutuhkan kesabaran dan berbagai penyesuaian.





