Jakarta, 10 September 2026 – Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (PB POBSI) Hary Tanoesoedibjo mendorong seluruh pengurus provinsi untuk semakin aktif menggelar kompetisi di daerah masing-masing. Penyelenggaraan turnamen secara rutin dinilai menjadi salah satu fondasi terpenting dalam membangun ekosistem biliar nasional sekaligus menemukan atlet potensial dari berbagai wilayah Indonesia. Kompetisi daerah juga menjadi pintu awal sebelum atlet berkembang menuju kejuaraan nasional hingga internasional. Menurut Hary, kemampuan seorang pebiliar tidak cukup dibentuk melalui latihan karena pengalaman menghadapi tekanan pertandingan mempunyai peranan besar dalam meningkatkan kualitas. Karena itu, semakin banyak kompetisi yang tersedia, semakin besar pula kesempatan Indonesia menemukan pemain berkualitas.
Dorongan tersebut sejalan dengan komitmen PB POBSI untuk memperluas pembinaan atlet secara berjenjang. Hary melihat perkembangan olahraga biliar di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir sudah menunjukkan kemajuan. Rumah biliar semakin banyak bermunculan dan minat masyarakat terhadap olahraga tersebut ikut meningkat. Namun, pertumbuhan fasilitas perlu diikuti kalender pertandingan yang konsisten agar atlet mempunyai ruang untuk mengukur kemampuan. Pengurus provinsi mempunyai posisi strategis karena berhadapan langsung dengan atlet dan komunitas di daerah.
Kompetisi tingkat daerah dapat menjadi tahapan pertama untuk menemukan pemain yang belum mendapatkan kesempatan tampil pada panggung nasional. Indonesia mempunyai wilayah yang luas sehingga potensi atlet tidak hanya berasal dari kota-kota besar. Turnamen yang berlangsung secara rutin memungkinkan pengurus daerah melakukan pemetaan kemampuan atlet dengan lebih objektif. Pemain yang menunjukkan performa baik kemudian dapat dipersiapkan untuk mengikuti kompetisi pada level lebih tinggi. Mekanisme tersebut diharapkan membuat regenerasi atlet tidak berhenti pada sejumlah nama yang sudah dikenal.
PB POBSI sendiri terus mempertahankan penyelenggaraan kompetisi nasional sebagai bagian dari pembinaan. Kejuaraan Nasional PB POBSI 2026 berlangsung di iNews Tower, Jakarta Pusat, pada 5 hingga 11 September. Ajang tersebut diikuti 189 atlet yang berasal dari 28 provinsi dengan total hadiah Rp100 juta. Jumlah peserta menunjukkan besarnya potensi atlet yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Hary berharap Kejurnas tidak hanya menjadi arena perebutan medali, tetapi juga menjadi tempat untuk melihat perkembangan atlet hasil pembinaan masing-masing provinsi.
Hary meminta seluruh peserta memanfaatkan pertandingan untuk menunjukkan kemampuan maksimal. Performa selama Kejurnas dapat menjadi salah satu catatan penting bagi PB POBSI dalam mencari pemain potensial yang nantinya dikembangkan menuju level internasional. Atlet yang mempunyai kualitas dan konsistensi dapat memperoleh kesempatan lebih besar untuk mengikuti kejuaraan dengan tingkat persaingan lebih tinggi. Karena itu, hasil pertandingan bukan satu-satunya aspek yang diperhatikan. Kemampuan teknis, mental bertanding, konsistensi dan perkembangan permainan juga menjadi bagian penting dalam proses pemantauan.
Kehadiran 28 provinsi pada Kejurnas tahun ini sekaligus menunjukkan masih terdapat ruang untuk memperluas jangkauan pembinaan. Sembilan provinsi tidak mengirimkan peserta, sementara Sulawesi Barat belum mempunyai kepengurusan POBSI. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi organisasi untuk membuat olahraga biliar berkembang lebih merata. Penguatan struktur organisasi di daerah dapat berjalan bersamaan dengan peningkatan jumlah kompetisi. Semakin luas jaringan pembinaan, semakin besar pula basis atlet yang dapat dipantau untuk kebutuhan prestasi nasional.
Dalam masa kepemimpinannya, Hary menempatkan kompetisi sebagai salah satu instrumen utama pengembangan biliar Indonesia. PB POBSI tidak hanya mengadakan turnamen tingkat nasional, tetapi juga mendorong penyelenggaraan kompetisi internasional. Kejurnas tetap diselenggarakan hampir setiap tahun dengan pengecualian pada 2020 ketika pandemi Covid-19 membatasi aktivitas olahraga. Setelah kondisi memungkinkan, kalender kompetisi kembali diperkuat. Kesinambungan tersebut dianggap penting agar atlet mempunyai target dan motivasi dalam menjalani program latihan.
Indonesia juga semakin aktif menjadi tuan rumah turnamen internasional. Predator-PBC Indonesian International Open 2026 menjadi salah satu contohnya dengan menghadirkan lebih dari seratus pebiliar dari berbagai negara. Turnamen yang digelar pada Juli tersebut memberikan kesempatan kepada atlet Indonesia menghadapi lawan dengan karakter dan kualitas permainan berbeda. Pengalaman melawan pemain internasional dapat menjadi tolok ukur untuk melihat posisi atlet nasional dibandingkan kompetitor dari negara lain. Bagi atlet lokal, kesempatan seperti itu juga mengurangi kebutuhan untuk selalu pergi ke luar negeri demi mendapatkan pengalaman pertandingan berkualitas tinggi.
Hary sebelumnya menegaskan perkembangan biliar harus dibangun melalui rantai kompetisi yang jelas mulai dari tingkat daerah, nasional hingga internasional. Kompetisi daerah berfungsi memperluas basis pemain, sementara turnamen nasional menjadi tempat mempertemukan atlet terbaik dari seluruh provinsi. Pemain yang berhasil menunjukkan kualitas kemudian dapat diarahkan menuju pertandingan internasional. Sistem tersebut memungkinkan proses pembinaan berlangsung secara bertahap dan terukur. Dengan kalender yang berkelanjutan, atlet juga mempunyai tujuan yang lebih jelas dalam meningkatkan kemampuan.
Pembinaan melalui kompetisi menjadi semakin penting karena PB POBSI mempunyai target melahirkan atlet Indonesia yang mampu mencatat prestasi dunia. Hary ingin pebiliar nasional tidak hanya menjadi peserta ketika tampil pada turnamen internasional, tetapi mempunyai kemampuan bersaing untuk menjadi juara. Untuk mencapai level tersebut, pengalaman bertanding harus dibangun sejak atlet masih berada di daerah. Menghadapi berbagai lawan secara rutin dapat melatih kemampuan membaca permainan, mengendalikan emosi dan mengambil keputusan dalam situasi penuh tekanan. Aspek tersebut sulit diperoleh apabila atlet hanya mengandalkan sesi latihan.
Keberadaan kompetisi yang rutin juga dapat membantu menjadikan biliar sebagai pilihan profesi bagi atlet. Hadiah turnamen, dukungan sponsor dan meningkatnya jumlah pertandingan dapat menciptakan ekosistem yang memungkinkan pemain menjalani olahraga secara lebih serius. PB POBSI ingin mengubah pandangan bahwa biliar hanya menjadi aktivitas rekreasi dengan memperkuat sisi olahraga prestasinya. Standar penyelenggaraan pertandingan, kualitas fasilitas serta pembinaan atlet perlu terus ditingkatkan untuk mencapai tujuan tersebut. Pengurus provinsi kemudian mempunyai peranan penting dalam memastikan perkembangan itu berlangsung hingga tingkat daerah.
Selain melahirkan atlet, banyaknya kompetisi dapat memperluas popularitas biliar di tengah masyarakat. Turnamen daerah memungkinkan masyarakat menyaksikan atlet lokal sekaligus mengenal karakter olahraga biliar sebagai cabang yang membutuhkan teknik, konsentrasi dan strategi. Semakin tinggi perhatian publik, peluang mendapatkan dukungan sponsor dan pengembangan fasilitas juga semakin terbuka. Efek tersebut dapat menciptakan siklus positif bagi pertumbuhan olahraga biliar. Daerah yang aktif menggelar kompetisi berpotensi mempunyai basis pemain lebih besar dan proses regenerasi yang lebih konsisten.
Dorongan Hary Tanoesoedibjo kepada Pengprov POBSI pada akhirnya diarahkan untuk membangun jalur pembinaan yang tidak terputus dari daerah hingga panggung dunia. Kejurnas PB POBSI 2026 yang menghadirkan 189 atlet dari 28 provinsi menjadi bukti besarnya potensi yang dapat dikembangkan. Namun, potensi tersebut membutuhkan frekuensi pertandingan yang cukup agar kemampuan atlet terus terasah. Kompetisi daerah, nasional dan internasional harus saling terhubung sehingga pemain mempunyai jenjang karier yang jelas. Dengan semakin banyaknya turnamen di berbagai wilayah, PB POBSI berharap bibit-bibit baru dapat muncul dan berkembang menjadi pebiliar Indonesia yang mampu bersaing serta meraih prestasi di tingkat dunia.




