Pontianak, 7 September 2026 – Masa depan pasangan ganda campuran Rehan Naufal Kusharjanto/Melati Daeva Oktavianti mulai menjadi perhatian setelah keduanya gagal mencapai final Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026. Pasangan yang baru menjalani debut tersebut harus menghentikan langkah pada babak semifinal setelah kalah dari wakil China, Liao Pin Yi/Zhang Jia Han. Pelatih ganda campuran PB Djarum, Vita Marissa, mengakui hasil tersebut belum memenuhi target yang diharapkan dengan mempertimbangkan pengalaman Rehan dan Melati di level internasional. Meski demikian, tim pelatih belum mengambil keputusan untuk langsung memisahkan keduanya karena mereka masih membutuhkan kesempatan membangun pola permainan sebagai pasangan baru. Rehan/Melati akan diuji melalui beberapa turnamen berikutnya untuk melihat perkembangan performa dan kecocokan permainan. Vita membuka kemungkinan melakukan perombakan apabila duet tersebut tidak memperlihatkan kemajuan sesuai target yang telah ditetapkan.
Rehan/Melati tersingkir setelah kalah dua gim langsung 18-21, 18-21 dari Liao/Zhang di GOR Terpadu A. Yani, Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu, 5 September. Dalam pertandingan tersebut, pasangan Indonesia sebenarnya beberapa kali berada dalam posisi unggul dan mempunyai kesempatan untuk mengendalikan permainan. Namun, wakil China mampu mengubah pola pertandingan dan memberikan tekanan yang membuat Rehan/Melati kesulitan mempertahankan momentum. Perubahan strategi tersebut tidak dapat direspons dengan cukup cepat sehingga sejumlah kesalahan sendiri mulai muncul. Situasi serupa terlihat pada fase akhir kedua gim ketika pasangan Indonesia gagal menjaga keunggulan yang sebelumnya berhasil dibangun. Kekalahan itu sekaligus menutup perjalanan perdana Rehan dan Melati sebagai pasangan dalam sebuah turnamen resmi.
Vita menilai pencapaian semifinal masih berada di bawah ekspektasi apabila melihat pengalaman yang dimiliki kedua pemain. Rehan sebelumnya telah menjalani berbagai turnamen internasional bersama sejumlah pasangan, sementara Melati merupakan pemain berpengalaman yang pernah meraih prestasi di level tertinggi. Dengan modal tersebut, Vita sebenarnya berharap keduanya mampu melangkah setidaknya ke pertandingan final atau bahkan memperebutkan gelar juara di turnamen level BWF World Tour Super 100 tersebut. Namun, pelatih juga mempertimbangkan bahwa Pontianak Indonesia Masters menjadi turnamen pertama mereka sebagai pasangan. Adaptasi mengenai pembagian area permainan, komunikasi, rotasi, dan pengambilan keputusan dalam tekanan pertandingan masih membutuhkan proses. Faktor tersebut membuat Vita memilih memberikan kesempatan lanjutan sebelum melakukan penilaian akhir terhadap kelanjutan duet Rehan/Melati.
Salah satu aspek yang mendapat perhatian khusus dari Vita adalah ketenangan Rehan ketika menghadapi poin-poin kritis. Menurut evaluasinya, Rehan/Melati beberapa kali mampu berada di depan, tetapi kehilangan fokus ketika pertandingan memasuki fase menentukan. Kondisi itu memberikan kesempatan kepada Liao/Zhang untuk mengambil momentum dan membalikkan situasi. Pada gim kedua, misalnya, pasangan Indonesia sempat unggul 11-7 dan kembali memimpin 16-14 sebelum lawan menyamakan kedudukan. Skor kemudian menjadi 18-18, tetapi tiga poin berikutnya berhasil diamankan pasangan China untuk menyelesaikan pertandingan. Vita menilai kemampuan mempertahankan ketenangan dalam situasi seperti itu harus diperbaiki karena menjadi faktor penting ketika menghadapi lawan dengan kualitas relatif seimbang.
Melati juga mengakui dirinya dan Rehan terlambat beradaptasi ketika pasangan China mengubah pola permainan. Perubahan tersebut membuat pendekatan yang sebelumnya efektif tidak lagi menghasilkan keuntungan bagi pasangan Indonesia. Ketika penyesuaian tidak dilakukan dengan cepat, kesalahan sendiri mulai muncul dan momentum pertandingan berpindah kepada lawan. Melati melihat kekalahan tersebut memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai bagian permainan yang harus diperbaiki. Sebagai pasangan baru, pengalaman menghadapi perubahan taktik lawan dalam situasi pertandingan dinilai berbeda dibandingkan ketika mereka menjalani latihan. Evaluasi tersebut akan menjadi modal penting apabila Rehan/Melati kembali diturunkan bersama dalam turnamen berikutnya.
Rehan sendiri belum dapat memastikan berapa lama kemitraannya dengan Melati akan dipertahankan. Ia menyerahkan keputusan mengenai komposisi pasangan sepenuhnya kepada tim pelatih setelah menjalani debut di Pontianak. Untuk sementara, fokus Rehan adalah menutup kekurangan yang terlihat sepanjang turnamen sekaligus meningkatkan aspek permainan yang sudah berjalan dengan baik. Ia menilai pertandingan resmi memberikan gambaran lebih konkret mengenai komunikasi dan koordinasi yang perlu diperbaiki dibandingkan ketika keduanya hanya berlatih bersama. Rehan dan Melati sebenarnya sudah cukup sering menjalani latihan sebagai partner, tetapi tekanan kompetisi menghadirkan situasi berbeda. Karena itu, beberapa turnamen lanjutan akan menjadi kesempatan penting untuk mengetahui seberapa cepat keduanya dapat membangun chemistry.
Pengalaman masing-masing pemain menjadi alasan tim pelatih memasang ekspektasi cukup tinggi. Rehan pernah meraih gelar Hylo Open 2022 bersama Lisa Ayu Kusumawati dalam turnamen BWF World Tour Super 300. Sementara itu, Melati mempunyai pengalaman meraih salah satu gelar paling bergengsi dalam bulu tangkis ketika menjuarai All England Open 2020 bersama Praveen Jordan. Rekam jejak tersebut menunjukkan keduanya telah menghadapi tekanan pertandingan internasional dalam berbagai situasi. Tantangannya sekarang adalah menggabungkan pengalaman individual tersebut menjadi pola permainan yang efektif sebagai pasangan baru. Tim pelatih tidak hanya akan melihat hasil akhir, tetapi juga perkembangan komunikasi, konsistensi, kemampuan beradaptasi, dan penyelesaian pada poin-poin penting.
Vita memastikan Rehan/Melati masih mempunyai kesempatan untuk membuktikan diri dalam empat turnamen berikutnya. Level Super 100 maupun Super 300 menjadi arena yang diharapkan dapat memperlihatkan perkembangan pasangan tersebut setelah evaluasi dari Pontianak. Tim pelatih ingin melihat apakah kekurangan yang sudah teridentifikasi dapat diperbaiki ketika menghadapi lawan dengan karakter permainan berbeda. Apabila kemajuan mulai terlihat, peluang Rehan dan Melati untuk terus dipertahankan sebagai pasangan akan semakin terbuka. Sebaliknya, apabila performa tetap tidak mengalami perkembangan sesuai target, tim pelatih akan melakukan pembicaraan lebih lanjut mengenai komposisi keduanya. Kemungkinan perombakan karena itu masih terbuka, tetapi keputusan tersebut tidak akan diambil hanya berdasarkan satu turnamen.
Pendekatan tersebut juga menunjukkan bahwa pembentukan pasangan ganda campuran membutuhkan proses evaluasi yang lebih panjang daripada sekadar melihat hasil debut. Kecocokan antarpemain mencakup aspek teknis, komunikasi, karakter permainan, pengambilan keputusan, hingga kemampuan saling menutup kelemahan ketika berada dalam tekanan. Rehan dan Melati mempunyai pengalaman yang dapat menjadi modal, tetapi keduanya harus menemukan keseimbangan baru setelah sebelumnya terbiasa bermain dengan pasangan berbeda. Tim pelatih juga mempunyai target prestasi yang harus dicapai sehingga setiap kombinasi pemain akan terus dievaluasi berdasarkan perkembangan kompetitifnya. Empat turnamen berikutnya akan memberikan data yang lebih lengkap mengenai kemampuan Rehan/Melati untuk berkembang. Hasil dari rangkaian tersebut akan menjadi pertimbangan penting sebelum PB Djarum menentukan langkah selanjutnya.
Kegagalan mencapai final Pontianak Indonesia Masters 2026 dengan demikian belum menjadi akhir perjalanan Rehan/Melati, tetapi membuat posisi duet tersebut memasuki fase evaluasi penting. Semifinal dalam turnamen debut memberikan sejumlah hal positif sekaligus memperlihatkan kelemahan yang harus segera diperbaiki. Kemampuan menjaga fokus pada poin kritis, merespons perubahan pola permainan lawan, mengurangi kesalahan sendiri, serta memperkuat komunikasi menjadi pekerjaan utama keduanya. Vita masih memberikan kesempatan kepada Rehan dan Melati untuk menunjukkan bahwa kombinasi pengalaman mereka dapat berkembang menjadi pasangan kompetitif. Namun, kesempatan tersebut juga disertai tuntutan untuk menghasilkan progres nyata dalam empat turnamen berikutnya. Apabila perkembangan yang diharapkan tidak muncul, perombakan pasangan menjadi salah satu opsi yang siap dipertimbangkan tim pelatih.





