Jakarta, 13 September 2026 – Elena Rybakina menorehkan salah satu pencapaian terbesar dalam perjalanan kariernya setelah menjuarai US Open 2026. Petenis Kazakhstan tersebut menaklukkan Aryna Sabalenka dalam pertandingan final yang berlangsung sengit di Arthur Ashe Stadium, New York, Sabtu, 12 September 2026 waktu setempat. Rybakina menang melalui tiga set dengan skor 6-4, 5-7, dan 6-2 untuk merebut gelar US Open pertamanya. Hasil tersebut sekaligus menggagalkan ambisi Sabalenka meraih gelar di Flushing Meadows untuk ketiga kalinya secara beruntun. Lebih istimewa lagi, kemenangan tersebut membawa Rybakina menuju peringkat satu dunia untuk pertama kalinya dalam karier. Perjalanan yang sebelumnya dibayangi masalah cedera akhirnya ditutup dengan trofi Grand Slam ketiganya.
Rybakina lahir di Moskow pada 17 Juni 1999 dan mulai mengenal tenis sejak berusia enam tahun. Ia memulai karier profesional pada 2014 sebelum memutuskan mewakili Kazakhstan pada 2018. Keputusan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan kariernya karena Kazakhstan memberikan dukungan terhadap perkembangan Rybakina di level profesional. Perlahan tetapi pasti, namanya mulai muncul sebagai salah satu pemain dengan pukulan paling kuat di sektor putri. Gelar WTA pertamanya diperoleh di Bucharest pada 2019 dan setahun kemudian ia berhasil menembus jajaran 20 besar dunia. Perkembangannya kemudian berlanjut hingga menjadi salah satu pemain elite dalam persaingan Grand Slam.
Karakter permainan Rybakina banyak ditentukan oleh servis keras dan pukulan baseline agresif. Dengan tinggi sekitar 184 sentimeter, ia mempunyai jangkauan yang memberikan keuntungan besar ketika melakukan servis maupun mengontrol reli dari belakang lapangan. Namun, kekuatan terbesar Rybakina tidak hanya terletak pada kemampuan menghasilkan pukulan keras. Ia juga dikenal mampu mempertahankan ekspresi tenang ketika pertandingan memasuki situasi penuh tekanan. Karakter tersebut kembali terlihat ketika menghadapi Sabalenka yang mempunyai gaya permainan sama-sama agresif. Ketika pertandingan final harus ditentukan melalui set ketiga, Rybakina mampu meningkatkan permainannya dan mengambil kendali pada saat paling menentukan.
Nama Rybakina pertama kali benar-benar menjadi perhatian dunia setelah menjuarai Wimbledon 2022. Gelar tersebut membuatnya menjadi petenis Kazakhstan pertama yang mampu menjuarai turnamen Grand Slam nomor tunggal. Setelah keberhasilan tersebut, perjalanan Rybakina tidak selalu berjalan mulus karena dirinya harus menghadapi persaingan ketat sekaligus berbagai persoalan kebugaran. Namun, kualitas permainannya membuat ia tetap berada dalam kelompok petenis terbaik dunia. Kesuksesan besar kembali datang pada Australian Open 2026 ketika dirinya mengalahkan Sabalenka melalui tiga set pada pertandingan final. Gelar di Melbourne menjadi Grand Slam keduanya sekaligus mengawali salah satu musim terbaik sepanjang kariernya.
Perjalanan menuju final US Open 2026 juga memperlihatkan ketangguhan mental Rybakina. Pada semifinal, ia harus menghadapi Coco Gauff yang mendapatkan dukungan besar dari publik Amerika Serikat. Rybakina kehilangan set pertama 3-6, tetapi tidak kehilangan ketenangan dan mampu merebut dua set berikutnya dengan skor identik 6-4. Kemenangan tersebut membawanya untuk pertama kali mencapai final US Open. Pada saat bersamaan, Sabalenka menyingkirkan Jessica Pegula 7-5 dan 6-2 untuk menjaga peluang mempertahankan gelarnya. Pertemuan keduanya kemudian menciptakan duel antara dua pemain yang mempunyai kekuatan servis dan pukulan dasar sangat besar.
Sebelum final berlangsung, Sabalenka mempunyai modal besar sebagai petenis nomor satu dunia sekaligus juara bertahan dua edisi terakhir. Ia juga memimpin catatan pertemuan dengan Rybakina 10-7 menjelang duel tersebut. Namun, Rybakina mempunyai keuntungan psikologis setelah mengalahkan Sabalenka dalam final Australian Open pada awal tahun. Keduanya sudah beberapa kali bertemu dalam pertandingan besar sehingga tidak banyak kejutan mengenai karakter permainan masing-masing. Rybakina memahami bahwa dirinya harus mampu menghadapi agresivitas Sabalenka tanpa kehilangan kontrol. Pertarungan tersebut akhirnya menjadi duel kekuatan sekaligus ketahanan mental antara dua pemain terbaik pada periode ini.
Rybakina berhasil mengambil set pertama 6-4 sebelum Sabalenka memberikan respons pada set kedua. Juara bertahan tersebut mampu merebut set dengan skor 7-5 sehingga pertandingan harus dilanjutkan ke set penentuan. Pada situasi itulah ketenangan Rybakina menjadi pembeda. Ia mampu mengambil kendali permainan dan meninggalkan Sabalenka untuk menutup set ketiga dengan kemenangan 6-2. Rybakina menghasilkan 36 winner sepanjang pertandingan sekaligus mencatatkan jumlah unforced error yang lebih sedikit dibandingkan lawannya. Kombinasi agresivitas dan konsistensi tersebut akhirnya menghentikan rentetan kemenangan Sabalenka di US Open.
Keberhasilan di New York semakin istimewa karena Rybakina datang ke US Open dengan kondisi yang tidak sepenuhnya ideal. Masalah pada pergelangan kaki sempat menimbulkan keraguan mengenai kesiapannya mengikuti turnamen. Namun, ia mampu melewati tujuh pertandingan hingga akhirnya berdiri sebagai juara. Perjalanan tersebut termasuk kemenangan atas sejumlah lawan berat seperti Naomi Osaka, Zheng Qinwen, Coco Gauff, dan akhirnya Sabalenka. Kemampuannya mempertahankan performa di tengah tekanan fisik menjadi salah satu bagian penting dari keberhasilan tersebut. Gelar US Open menunjukkan Rybakina mampu menemukan permainan terbaiknya pada saat yang paling dibutuhkan.
Trofi di Flushing Meadows menjadi gelar Grand Slam ketiga Rybakina setelah Wimbledon 2022 dan Australian Open 2026. Dengan demikian, hanya Roland Garros yang masih belum dimenanginya untuk melengkapi career Grand Slam. Ia juga menjadi salah satu dari sedikit petenis putri pada abad ini yang mampu memenangkan Australian Open dan US Open pada musim yang sama. Dua gelar Grand Slam sepanjang 2026 semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain paling dominan pada lapangan keras. Keberhasilan tersebut sekaligus menjadi pencapaian bersejarah bagi Kazakhstan. Rybakina akan menjadi petenis Kazakhstan pertama yang mencapai peringkat satu dunia ketika daftar peringkat terbaru diberlakukan.
Kesuksesan Rybakina juga memperlihatkan perubahan besar dalam persaingan tenis putri. Sabalenka sebelumnya mempertahankan posisi nomor satu dunia selama 99 pekan dan datang ke New York dengan ambisi mempertahankan dominasinya. Namun, performa Rybakina sepanjang musim membuat jarak keduanya terus mengecil sebelum akhirnya posisi teratas berpindah tangan. Rivalitas mereka kini semakin menarik karena keduanya telah beberapa kali bertemu dalam final besar. Sabalenka tetap mempunyai kekuatan luar biasa, sementara Rybakina menunjukkan dirinya mempunyai permainan yang mampu meredam agresivitas petenis Belarus tersebut. Persaingan keduanya berpotensi menjadi salah satu rivalitas utama tenis putri dalam beberapa musim mendatang.
Kisah Elena Rybakina di US Open 2026 pada akhirnya berubah dari misi menantang ratu tenis dunia menjadi keberhasilan merebut mahkota tersebut. Ia datang ke final menghadapi Aryna Sabalenka sebagai juara bertahan dua kali, kemudian pulang dengan kemenangan 6-4, 5-7, 6-2 dan trofi US Open pertama dalam kariernya. Gelar tersebut melengkapi keberhasilannya di Australian Open pada awal tahun sekaligus membawa koleksi Grand Slam menjadi tiga. Dari petenis muda kelahiran Moskow yang beralih membela Kazakhstan pada 2018, Rybakina kini mencapai puncak peringkat tenis putri dunia. Tantangan berikutnya adalah mempertahankan konsistensi sekaligus mengejar Roland Garros, satu-satunya Grand Slam yang masih belum masuk koleksinya. Kemenangan di New York pun menegaskan bahwa Rybakina bukan lagi sekadar penantang pemain nomor satu dunia, melainkan telah menjadi sosok yang harus dikalahkan di puncak tenis putri.




