Jakarta, 25 September 2026 –
Menteri Keuangan Suahasil Nazara optimistis perekonomian Indonesia mampu mencatat pertumbuhan di atas 5,5 persen sepanjang semester II-2026. Keyakinan tersebut disampaikan dengan mempertimbangkan sejumlah indikator fundamental ekonomi domestik yang dinilai masih menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global. Pemerintah melihat momentum pertumbuhan pada kuartal III dan kuartal IV masih memiliki ruang untuk bergerak lebih tinggi dibandingkan capaian semester pertama. Pada saat yang sama, pemerintah tetap memiliki aspirasi membawa pertumbuhan ekonomi menuju level 6 persen. Namun, pencapaian tersebut akan tetap bergantung pada perkembangan ekonomi domestik dan kondisi eksternal yang dapat memengaruhi aktivitas perekonomian nasional.
Optimisme pemerintah didukung capaian pertumbuhan ekonomi selama enam bulan pertama 2026 yang masih berada di atas 5 persen. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan, kemudian berlanjut sebesar 5,29 persen pada kuartal II. Secara kumulatif, perekonomian nasional sepanjang semester I-2026 mencatat pertumbuhan sebesar 5,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian tersebut memberikan dasar bagi pemerintah untuk mempertahankan momentum pada paruh kedua tahun ini. Meski demikian, perkembangan ekonomi global tetap menjadi faktor yang terus diperhitungkan dalam menentukan arah kebijakan.
Selain pertumbuhan produk domestik bruto, pemerintah memperhatikan tingkat inflasi dan perkembangan penyaluran kredit sebagai indikator daya tahan ekonomi. Inflasi tercatat berada di sekitar 3,19 persen, sedangkan pertumbuhan kredit perbankan masih berada pada kisaran dua digit. Kredit pada Agustus 2026 tercatat tumbuh sekitar 13,6 persen, dengan permintaan dari sektor swasta mulai menunjukkan peningkatan. Perkembangan kredit investasi dan modal kerja menjadi perhatian karena pembiayaan tersebut berkaitan langsung dengan ekspansi kegiatan produktif. Pemerintah menilai pergerakan sektor swasta akan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga aktivitas ekonomi hingga akhir tahun.
Koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter juga akan diperkuat untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan. Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia menempatkan pengembangan sektor riil sebagai salah satu bagian penting dari strategi tersebut. Aktivitas sektor riil dibutuhkan untuk menciptakan nilai tambah, memperluas kegiatan produksi, serta membuka kesempatan kerja. Pertumbuhan yang lebih tinggi diharapkan tidak hanya tercermin dalam angka makroekonomi, tetapi juga menghasilkan dampak terhadap kegiatan usaha dan masyarakat. Sinergi kebijakan diperlukan karena tekanan eksternal masih dapat berubah dengan cepat mengikuti perkembangan geopolitik, perdagangan internasional, serta pasar keuangan global.
Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara juga menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk menjaga momentum ekonomi. Suahasil menyatakan pelaksanaan APBN terus dipantau secara berkala untuk memastikan fungsi fiskal berjalan sesuai kebutuhan perekonomian. Belanja pemerintah dapat berperan menjaga permintaan sekaligus mendukung berbagai program pembangunan dan kegiatan produktif. Pada kuartal II-2026, konsumsi pemerintah menjadi salah satu komponen yang mencatat pertumbuhan tinggi, sementara investasi juga memberikan kontribusi terhadap ekspansi ekonomi. Pengelolaan fiskal tetap harus mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan mendorong pertumbuhan dan menjaga kesehatan APBN dalam jangka menengah.
Meski pemerintah menargetkan pertumbuhan lebih tinggi pada semester kedua, sejumlah risiko tetap membutuhkan perhatian. Ketidakpastian geopolitik dapat memengaruhi harga energi dan komoditas, perdagangan internasional, arus modal, hingga nilai tukar. Kondisi cuaca dan potensi gangguan terhadap produksi pangan juga menjadi faktor domestik yang perlu diantisipasi karena dapat memengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat. Konsumsi rumah tangga, investasi, ekspor, serta efektivitas belanja pemerintah akan menentukan kemampuan perekonomian mempertahankan kecepatannya. Karena itu, pencapaian pertumbuhan di atas 5,5 persen membutuhkan dukungan yang relatif merata dari berbagai komponen ekonomi.
Pemerintah akan mencermati perkembangan indikator ekonomi pada kuartal III sebagai salah satu penanda apakah target pertumbuhan semester II dapat tercapai. Dengan pertumbuhan semester I sebesar 5,45 persen, inflasi yang masih terkendali, kredit perbankan yang ekspansif, serta aktivitas sektor swasta yang mulai meningkat, pemerintah menilai fondasi ekonomi masih cukup kuat untuk melanjutkan ekspansi. Aspirasi menuju pertumbuhan 6 persen tetap menjadi arah yang ingin dicapai, meskipun pelaksanaannya harus menyesuaikan perkembangan ekonomi dunia dan kondisi dalam negeri. Kebijakan fiskal, moneter, dan penguatan sektor riil akan menjadi bagian penting untuk mempertahankan momentum hingga penghujung 2026. Hasil pertumbuhan kuartal III dan IV nantinya akan menentukan sejauh mana optimisme pertumbuhan di atas 5,5 persen pada semester kedua dapat terealisasi.




