Jakarta, 3 Oktober 2026 – Perdebatan mengenai apakah Timnas Portugal bermain lebih baik tanpa Cristiano Ronaldo kembali mencuat setelah kemenangan 4-2 atas Denmark di UEFA Nations League. Portugal tampil tanpa Ronaldo yang meninggalkan pemusatan latihan setelah sebelumnya tidak dimainkan saat menang 2-1 atas Norwegia. Goncalo Ramos kembali menjadi pilihan di lini depan, sementara Joao Cancelo, Ramos, Vitinha, dan Joao Felix mencetak gol ke gawang Denmark. Hasil tersebut membuat pertanyaan mengenai ketergantungan Portugal terhadap kapten berusia 41 tahun itu kembali ramai dibicarakan.
Secara statistik, memang terdapat indikasi bahwa Portugal tetap sangat kompetitif ketika Ronaldo tidak bermain. Dalam periode 2024 hingga 2026, Portugal mencatat 17 kemenangan, enam hasil imbang, dan enam kekalahan dari 29 pertandingan bersama Ronaldo. Tanpa Ronaldo pada periode yang sama, mereka membukukan lima kemenangan, dua hasil imbang, dan satu kekalahan dalam delapan pertandingan. Persentase poin Portugal tanpa Ronaldo mencapai sekitar 70,8 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan 65,5 persen ketika sang penyerang tampil.
Jika rentang pengamatan diperluas sejak 2017, perbedaannya juga relatif kecil dalam urusan kemenangan. Portugal dilaporkan mempunyai tingkat kemenangan sekitar 63 persen ketika Ronaldo bermain dan sekitar 64 persen ketika dirinya absen. Perbedaan lebih terlihat pada produktivitas gol, dengan Portugal mencetak rata-rata sekitar 2,1 gol per pertandingan bersama Ronaldo dan 2,7 gol ketika tanpa dirinya. Namun, statistik tersebut tidak bisa langsung digunakan untuk menyimpulkan Ronaldo membuat Portugal lebih buruk karena kualitas lawan dan konteks pertandingan yang dijalani berbeda-beda.
Beberapa kemenangan terbesar Portugal dalam beberapa tahun terakhir memang terjadi ketika Ronaldo tidak berada di lapangan. Mereka pernah menghancurkan Luksemburg 9-0 pada September 2023 ketika Ronaldo absen, kemudian mengalahkan Armenia 9-1 pada November 2025 saat Ronaldo menjalani skorsing. Dalam kemenangan atas Armenia, Bruno Fernandes dan Joao Neves masing-masing mencetak hattrick, sedangkan Goncalo Ramos ikut menyumbangkan gol. Hasil-hasil tersebut memperlihatkan Portugal mempunyai cukup banyak sumber gol meski pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah mereka tidak bermain.
Perubahan juga terlihat dalam pertandingan terbaru di bawah Jorge Jesus. Saat Ronaldo dicadangkan melawan Norwegia, Goncalo Ramos dipercaya sebagai penyerang tengah dan mencetak gol penentu kemenangan 2-1. Namun, statistik pertandingan menunjukkan Portugal hanya menghasilkan sekitar 1,04 expected goals dan menguasai 38 persen bola, sementara Norwegia menghasilkan 2,52 expected goals dari 22 tembakan. Artinya, kemenangan tanpa Ronaldo dalam pertandingan tersebut tidak otomatis berarti Portugal tampil dominan atau selalu lebih baik secara keseluruhan.
Di sisi lain, pengaruh Ronaldo terhadap Portugal tetap sulit diabaikan. Ia telah mencetak lebih dari 140 gol dalam lebih dari 230 penampilan internasional dan berperan dalam era ketika Portugal memenangkan Euro 2016 serta dua gelar UEFA Nations League. Bahkan pada periode 2024-2026, Ronaldo masih mencetak 18 gol dalam 29 pertandingan dan turut mencetak gol ketika Portugal mengalahkan Spanyol pada final Nations League 2025. Perdebatan saat ini karena itu lebih berkaitan dengan bagaimana Portugal menggunakan Ronaldo pada usia 41 tahun daripada mempertanyakan seluruh kontribusinya kepada tim nasional.
Data sejauh ini menunjukkan anggapan Portugal otomatis lebih buruk tanpa Ronaldo merupakan mitos, karena mereka terbukti tetap mampu menang dan bahkan menghasilkan sejumlah kemenangan besar. Namun, menyatakan Portugal secara mutlak selalu lebih baik tanpa Ronaldo juga belum dapat dianggap sebagai fakta hanya berdasarkan statistik tersebut. Jumlah pertandingan tanpa Ronaldo jauh lebih sedikit dan karakter lawan berbeda, sehingga perbandingan langsung memiliki keterbatasan. Yang lebih jelas, kedalaman pemain seperti Ramos, Bruno Fernandes, Bernardo Silva, Joao Felix, Rafael Leao, dan Vitinha membuat Portugal kini mempunyai lebih banyak pilihan untuk membangun permainan tanpa harus selalu menjadikan Ronaldo sebagai pusat serangan.




