Jakarta, 27 Oktober 2026 – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) meminta PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI segera merealisasikan pengadaan delapan rangkaian kereta rel listrik (KRL) baru untuk meningkatkan kapasitas angkutan penumpang di wilayah Jabodetabek. Permintaan tersebut disampaikan menyusul tingginya kebutuhan armada transportasi massal, terutama pada jam keberangkatan dan kepulangan pekerja. Delapan rangkaian yang dimaksud merupakan bagian dari komitmen pengadaan 35 rangkaian KRL baru yang telah disepakati sejak 2023. Pemerintah menargetkan keseluruhan program tersebut dapat diselesaikan pada 2027. Percepatan pengadaan dinilai penting agar pelayanan Commuter Line semakin mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat.
Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub, Allan Tandiono, menyampaikan bahwa penambahan armada KRL menjadi kebutuhan mendesak berdasarkan kondisi yang ditemukan di sejumlah stasiun. Pernyataan tersebut disampaikan dalam diskusi bersama Forum Wartawan Perhubungan di Jakarta pada Senin, 26 Oktober 2026. Menurut Allan, kepadatan penumpang yang terjadi pada sejumlah perjalanan menunjukkan bahwa kapasitas angkut saat ini belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan pengguna. Kondisi tersebut memerlukan langkah nyata melalui pengadaan sarana tambahan dan peningkatan kemampuan operasional. Kemenhub berharap KAI segera mengambil keputusan agar delapan rangkaian yang belum dikontrak dapat memasuki proses pengadaan.
Berdasarkan perkembangan program pengadaan, sebanyak 11 rangkaian KRL baru yang didatangkan dari China telah beroperasi di Indonesia. Selain itu, KAI memesan 16 rangkaian melalui PT Industri Kereta Api (INKA) sebagai bagian dari dukungan terhadap industri manufaktur perkeretaapian nasional. Dari jumlah tersebut, tujuh rangkaian telah beroperasi, sedangkan sembilan lainnya masih menjalani proses produksi. Dua rangkaian produksi INKA ditargetkan mulai melayani penumpang pada 2026, sementara tujuh rangkaian berikutnya dijadwalkan menyusul pada 2027. Dengan demikian, masih terdapat delapan rangkaian yang perlu segera diadakan untuk melengkapi target keseluruhan 35 rangkaian baru.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi turut mendorong KAI mempercepat realisasi pengadaan armada tersebut. Pemerintah memberikan ruang kepada perusahaan untuk menentukan mekanisme pengadaan, baik melalui produksi dalam negeri maupun pembelian dari luar negeri. Meski demikian, keputusan tersebut harus mempertimbangkan kebutuhan operasional, kualitas sarana, dan ketentuan keselamatan perkeretaapian. Dudy menekankan pentingnya memenuhi komitmen pengadaan yang telah disetujui agar manfaatnya dapat segera dirasakan masyarakat. Pemerintah juga mengingatkan bahwa ketersediaan anggaran perlu diikuti pelaksanaan pengadaan yang efektif dan tepat waktu.
Kebutuhan penambahan KRL tidak terlepas dari tingginya aktivitas perjalanan masyarakat di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Commuter Line menjadi salah satu moda transportasi utama bagi pekerja, pelajar, dan masyarakat yang melakukan perjalanan antarkota setiap hari. Pada jam sibuk, kepadatan penumpang sering terjadi di stasiun maupun di dalam rangkaian kereta. Penambahan armada diharapkan membantu meningkatkan kapasitas angkut sekaligus mengurangi tekanan terhadap rangkaian yang telah beroperasi. Namun, peningkatan pelayanan juga membutuhkan pengaturan jadwal perjalanan dan kesiapan infrastruktur pendukung.
Selain mempercepat pengadaan delapan rangkaian baru, Kemenhub meminta KAI meningkatkan penggunaan rangkaian berkapasitas lebih besar. Salah satu langkah yang sedang dipersiapkan adalah pengoperasian KRL dengan susunan 12 kereta dalam satu rangkaian atau dikenal sebagai formasi 12 SF. Penggunaan rangkaian yang lebih panjang memungkinkan jumlah penumpang yang diangkut dalam satu perjalanan menjadi lebih banyak. Kebijakan tersebut dipandang relevan untuk jalur dengan tingkat permintaan tinggi, terutama pada pagi dan sore hari. Meski demikian, penerapannya harus disesuaikan dengan kemampuan lintasan, fasilitas stasiun, serta pasokan listrik yang tersedia.
Untuk mendukung pengoperasian rangkaian lebih panjang, KAI juga menyiapkan peningkatan infrastruktur kelistrikan pada lintas Green Line yang melayani kawasan Rangkasbitung, Serpong, dan Tanah Abang. Penambahan gardu listrik menjadi salah satu kebutuhan agar operasional kereta berkapasitas besar dapat berjalan secara optimal. Allan menjelaskan bahwa pengoperasian rangkaian 12 gerbong pada lintas tersebut menjadi salah satu sasaran peningkatan layanan pada 2027. Pembangunan fasilitas pendukung harus diselesaikan sebelum kereta dengan formasi lebih panjang dapat digunakan secara luas. Koordinasi antara penyedia sarana dan pengelola prasarana menjadi penting untuk memastikan peningkatan kapasitas berlangsung tanpa mengganggu keselamatan perjalanan.
Di luar komitmen 35 rangkaian baru, pemerintah juga membahas rencana pengadaan tambahan 30 rangkaian KRL berdasarkan arahan Presiden Prabowo Subianto. Program tambahan tersebut merupakan rencana terpisah yang ditujukan untuk memperkuat kapasitas transportasi perkotaan dalam jangka panjang. Penambahan armada dinilai dapat membantu menggantikan sejumlah rangkaian lama yang telah mendekati akhir masa operasional. Kereta baru dengan kapasitas lebih besar juga diharapkan meningkatkan kenyamanan serta keandalan layanan. Namun, realisasi program tersebut masih memerlukan kejelasan mengenai skema pengadaan, pembiayaan, dan jadwal pelaksanaan.
Kemenhub juga masih mengevaluasi usulan KAI terkait kemungkinan pengadaan KRL bekas dari Jepang. Pemeriksaan dilakukan terhadap spesifikasi teknis, kelayakan operasional, serta kesesuaian sarana dengan standar keselamatan yang berlaku di Indonesia. Pemerintah belum memberikan persetujuan final karena masih menunggu kelengkapan informasi teknis dari pihak KAI. Di sisi lain, pengadaan KRL baru tetap menjadi perhatian utama karena berkaitan dengan kebutuhan peremajaan armada dan keberlanjutan pelayanan. Setiap kereta yang akan digunakan harus memenuhi persyaratan pengujian sebelum memperoleh izin untuk mengangkut penumpang.
Percepatan pengadaan delapan rangkaian KRL baru diharapkan menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas transportasi publik Jabodetabek. Kemenhub menegaskan bahwa penyelesaian program 35 rangkaian harus menjadi prioritas karena kebutuhan masyarakat terhadap layanan kereta komuter semakin besar. KAI diharapkan segera memastikan kontrak pengadaan, jadwal kedatangan, dan kesiapan operasional armada tambahan. Peningkatan kapasitas juga perlu berjalan bersama perbaikan infrastruktur kelistrikan, fasilitas stasiun, dan sistem pengaturan perjalanan. Dengan langkah tersebut, pemerintah berharap kepadatan penumpang dapat berkurang dan layanan Commuter Line menjadi semakin aman, nyaman, serta dapat diandalkan masyarakat.




