Jakarta, 18 Oktober 2026 – Menteri Transmigrasi (Mentrans) menyoroti besarnya potensi ekonomi dari pemanfaatan daging buah pala yang selama ini belum diolah secara optimal oleh sebagian masyarakat. Bagian buah yang kerap dianggap memiliki nilai jual rendah tersebut ternyata dapat dikembangkan menjadi berbagai produk makanan dan minuman bernilai tambah. Pengolahan daging buah pala dinilai dapat membuka peluang usaha baru, terutama bagi masyarakat di kawasan transmigrasi yang memiliki potensi perkebunan rempah. Melalui inovasi pengolahan hasil pertanian, komoditas pala diharapkan tidak hanya menghasilkan pendapatan dari biji dan fuli, tetapi juga dari bagian daging buahnya. Langkah tersebut sejalan dengan upaya meningkatkan produktivitas ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya lokal.
Pala merupakan salah satu komoditas rempah unggulan Indonesia yang telah dikenal luas dalam perdagangan internasional. Tanaman ini banyak dibudidayakan di sejumlah wilayah, terutama Maluku, Maluku Utara, dan berbagai daerah penghasil rempah lainnya. Selama ini, biji pala dan fuli atau selaput berwarna kemerahan yang menyelimuti bijinya menjadi bagian yang memiliki nilai ekonomi penting. Sementara itu, daging buah pala yang jumlahnya cukup besar sering kali belum dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, bagian tersebut memiliki aroma khas dan dapat diolah menjadi produk pangan apabila diproses dengan benar. Potensi inilah yang menjadi perhatian dalam pengembangan usaha berbasis komoditas lokal.
Salah satu cara meningkatkan nilai ekonomi daging buah pala adalah mengolahnya menjadi manisan. Produk ini dapat dibuat melalui proses pemilihan buah yang layak, pencucian, pemotongan, dan perlakuan untuk mengurangi rasa sepat. Daging buah kemudian diolah menggunakan larutan gula sesuai formulasi yang digunakan oleh produsen. Manisan pala dapat dipasarkan dalam bentuk basah maupun kering dengan kemasan yang menarik. Produk tersebut memiliki peluang menjadi oleh-oleh khas daerah penghasil pala karena menawarkan rasa dan aroma yang berbeda dari buah lainnya. Dengan pengolahan dan pengemasan yang baik, harga jualnya berpotensi lebih tinggi dibandingkan bahan mentah.
Selain manisan, daging buah pala juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku sirup, sari buah, selai, dan berbagai produk olahan lainnya. Pengembangan produk tersebut memberikan kesempatan bagi pelaku usaha untuk menjangkau kelompok konsumen yang lebih luas. Sirup pala, misalnya, dapat dipasarkan sebagai minuman khas daerah dengan karakter aroma rempah yang kuat. Sementara itu, selai dan produk pangan olahan dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pasar rumah tangga maupun usaha kuliner. Namun, setiap produk harus dibuat melalui proses yang memperhatikan kebersihan, keamanan pangan, dan kestabilan mutu. Penggunaan bahan tambahan serta metode pengolahan juga harus mengikuti ketentuan yang berlaku agar produk aman dikonsumsi.
Menteri Transmigrasi memandang pengembangan industri pengolahan hasil pertanian sebagai salah satu pendekatan untuk memperkuat perekonomian kawasan transmigrasi. Masyarakat tidak hanya didorong menghasilkan komoditas perkebunan, tetapi juga meningkatkan nilai tambah melalui kegiatan produksi. Pendekatan tersebut dapat membantu mengurangi ketergantungan petani terhadap penjualan bahan mentah yang harganya dapat berfluktuasi. Apabila pengolahan dilakukan secara berkelompok, masyarakat juga berpeluang membangun usaha bersama melalui koperasi atau unit usaha mikro, kecil, dan menengah. Kegiatan tersebut dapat menciptakan lapangan kerja pada tahap produksi, pengemasan, distribusi, hingga pemasaran. Dengan demikian, manfaat ekonomi dari tanaman pala dapat dirasakan oleh lebih banyak pelaku usaha di daerah.
Meski memiliki potensi menjanjikan, pengembangan produk olahan daging buah pala membutuhkan dukungan keterampilan dan teknologi yang memadai. Pelaku usaha perlu memahami teknik pengolahan untuk menghasilkan produk dengan rasa, tekstur, dan kualitas yang konsisten. Peralatan produksi yang sesuai juga diperlukan agar proses pengolahan berlangsung lebih efisien dan memenuhi standar kebersihan. Selain itu, pelatihan mengenai pengemasan, pencatatan keuangan, serta strategi pemasaran dapat membantu meningkatkan daya saing produk. Dukungan pemerintah daerah dan lembaga terkait menjadi penting untuk memperluas akses pelaku usaha terhadap pendampingan. Pengembangan usaha juga perlu mempertimbangkan ketersediaan bahan baku agar kegiatan produksi dapat berjalan secara berkelanjutan.
Aspek pemasaran menjadi tantangan berikutnya dalam mengubah daging buah pala menjadi sumber pendapatan yang lebih besar. Produk yang telah diolah membutuhkan identitas merek, kemasan yang sesuai, serta jaringan distribusi agar dapat menjangkau konsumen. Pemanfaatan perdagangan digital dapat menjadi salah satu pilihan bagi usaha kecil untuk memperkenalkan produk kepada pasar di luar daerah asal. Namun, keberhasilan penjualan tetap bergantung pada kualitas, harga yang kompetitif, dan kemampuan memenuhi permintaan. Pelaku usaha pangan juga perlu memperhatikan perizinan dan ketentuan label produk sesuai kategori usahanya. Dengan pengelolaan yang tepat, produk olahan pala berpeluang berkembang dari usaha rumah tangga menjadi kegiatan ekonomi yang lebih luas.
Pemanfaatan daging buah pala menunjukkan bahwa peningkatan kesejahteraan petani tidak selalu harus dilakukan melalui perluasan lahan atau peningkatan volume panen. Nilai tambah juga dapat diciptakan dengan mengolah bagian hasil pertanian yang sebelumnya kurang dimanfaatkan. Gagasan tersebut membuka peluang bagi masyarakat kawasan transmigrasi untuk mengembangkan produk unggulan berdasarkan karakteristik wilayah masing-masing. Namun, keberhasilannya memerlukan kesinambungan antara produksi, pengolahan, pengendalian mutu, dan pemasaran. Kolaborasi antara petani, pelaku UMKM, pemerintah, dan mitra usaha dapat memperkuat pengembangan industri olahan pala. Melalui langkah tersebut, daging buah pala berpotensi menjadi sumber penghasilan tambahan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat di daerah penghasil rempah.




