Madiun, 20 September 2026 – Petugas gabungan menghadapi kesulitan dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di kawasan Gunung Wilis, Jawa Timur. Kondisi medan yang curam dan sulit dijangkau menjadi kendala utama bagi tim ketika berusaha mendekati titik api. Sejumlah lokasi kebakaran berada di kawasan dengan kemiringan tinggi sehingga petugas harus berjalan kaki sambil membawa perlengkapan pemadaman. Vegetasi kering di sekitar lokasi turut meningkatkan risiko api merambat ke area lain apabila tertiup angin. Operasi pemadaman terus dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan personel yang berada di lapangan.
Tim gabungan berupaya mencapai titik-titik api melalui jalur darat dengan memanfaatkan akses yang tersedia di kawasan pegunungan. Perjalanan menuju lokasi membutuhkan waktu karena tidak semua jalur dapat dilalui kendaraan maupun peralatan pemadam berukuran besar. Petugas harus membawa perlengkapan secara manual melewati jalur menanjak, sempit, dan berbatu. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman berbeda dibandingkan kebakaran yang terjadi di kawasan dengan akses terbuka. Setiap pergerakan personel juga harus dilakukan secara hati-hati untuk menghindari kecelakaan ketika melintasi lereng Gunung Wilis.
Kondisi cuaca menjadi faktor lain yang terus diperhatikan selama operasi berlangsung. Vegetasi yang mengering dapat membuat api lebih mudah menjalar, terutama ketika angin bertiup cukup kuat di kawasan pegunungan. Perubahan arah angin juga dapat mengubah arah penyebaran api dalam waktu relatif cepat sehingga petugas harus terus memantau kondisi di sekitarnya. Selain melakukan pemadaman langsung, tim berupaya mencegah api menyebar menuju kawasan hutan yang belum terbakar. Pemantauan terhadap titik api dilakukan secara berkala untuk menentukan lokasi yang perlu mendapatkan penanganan terlebih dahulu.
Petugas di lapangan menggunakan metode pemadaman yang disesuaikan dengan karakteristik medan. Pada sejumlah titik yang tidak dapat dijangkau kendaraan, upaya dilakukan menggunakan peralatan manual untuk memutus jalur rambatan api dan memadamkan bagian yang masih menyala. Pembuatan sekat di sekitar area terbakar dapat menjadi salah satu langkah untuk membatasi penyebaran ketika kondisi memungkinkan. Setelah api terlihat padam, petugas tetap perlu melakukan pemeriksaan terhadap bara yang masih tersisa di bawah vegetasi maupun material organik. Bara tersebut berpotensi kembali memunculkan api apabila terkena angin dan kondisi sekitarnya masih kering.
Operasi di kawasan Gunung Wilis membutuhkan koordinasi antarpersonel karena keselamatan menjadi pertimbangan utama di tengah medan yang sulit. Tim harus memperhitungkan jalur masuk sekaligus jalur keluar apabila terjadi perubahan kondisi secara tiba-tiba. Asap dari kebakaran juga dapat mengurangi jarak pandang dan mengganggu pernapasan ketika petugas berada dekat dengan titik api. Karena itu, personel tidak hanya menghadapi ancaman dari kobaran api, tetapi juga risiko geografis kawasan pegunungan. Pemantauan situasi terus dilakukan agar penempatan petugas dapat disesuaikan dengan perkembangan kebakaran.
Karhutla di kawasan pegunungan memiliki tantangan tersendiri karena proses pemadaman tidak selalu dapat dilakukan dengan cepat meskipun titik api sudah diketahui. Akses yang terbatas membuat pengerahan personel dan perlengkapan membutuhkan waktu lebih panjang, sementara kondisi angin dapat membuat kebakaran berkembang sebelum petugas tiba. Setelah api utama berhasil dikendalikan, tahap pendinginan juga menjadi pekerjaan penting untuk memastikan kebakaran benar-benar tidak kembali muncul. Petugas perlu menyisir area yang sebelumnya terbakar untuk menemukan sisa bara maupun titik panas. Proses tersebut dapat berlangsung cukup lama apabila luas area terdampak besar dan medan tidak memungkinkan pemeriksaan dilakukan dengan cepat.
Petugas gabungan akan melanjutkan pemadaman dan pemantauan hingga kondisi kawasan Gunung Wilis dinyatakan aman dari potensi kebakaran susulan. Prioritas diarahkan pada pengendalian titik api sekaligus mencegah kobaran meluas ke kawasan hutan lainnya. Masyarakat di sekitar kawasan juga diharapkan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan api, terutama ketika vegetasi berada dalam kondisi kering. Penyebab kebakaran perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut setelah situasi memungkinkan agar langkah pencegahan dapat diperkuat. Dengan medan curam sebagai kendala utama, keberhasilan operasi sangat bergantung pada koordinasi petugas, kondisi cuaca, serta kemampuan memastikan seluruh titik panas benar-benar padam.




