Jakarta, 19 September 2026 – Aktor Krisjiana Baharudin mengungkap cerita di balik keputusannya menjalani vasektomi setelah berdiskusi dengan sang istri, pedangdut Siti Badriah. Keputusan tersebut menurut Krisjiana tidak membutuhkan waktu panjang karena hanya sekitar tiga hari sejak pembicaraan awal hingga dirinya merasa mantap. Pertimbangannya terutama berkaitan dengan kondisi dan masa depan kesehatan reproduksi sang istri setelah mereka memiliki anak. Krisjiana menilai tanggung jawab dalam mengatur kehamilan tidak seharusnya selalu dibebankan kepada perempuan. Ia juga menggunakan perumpamaan bahwa rahim istri bukanlah “blind box” yang terus dicoba tanpa mempertimbangkan konsekuensi bagi tubuh perempuan. Karena alasan tersebut, ia memilih mengambil peran melalui prosedur kontrasepsi pada pria.
Krisjiana menjelaskan keputusan vasektomi muncul setelah dirinya dan Siti Badriah membicarakan rencana keluarga mereka secara serius. Keduanya telah memiliki anak dan mempertimbangkan bagaimana langkah yang akan diambil apabila tidak ingin kembali menambah keturunan. Dalam pembicaraan tersebut, Krisjiana mulai mencari informasi mengenai pilihan kontrasepsi yang tersedia bagi laki-laki. Ia kemudian mempertimbangkan vasektomi sebagai salah satu pilihan yang dinilainya sesuai dengan keputusan keluarga mereka. Proses mempertimbangkannya berlangsung relatif singkat karena ia mengaku sudah memahami alasan utama mengapa ingin menjalani tindakan tersebut. Setelah sekitar tiga hari, Krisjiana menyatakan dirinya sudah yakin dengan keputusan yang akan diambil.
Salah satu pertimbangan terbesar Krisjiana adalah beban fisik yang selama ini dijalani Siti Badriah ketika hamil dan melahirkan. Menurutnya, proses kehamilan merupakan pengalaman yang sepenuhnya berlangsung di tubuh perempuan sehingga pasangan laki-laki juga perlu mempertimbangkan dampaknya. Ia tidak ingin keputusan mengenai jumlah anak hanya berujung pada istrinya yang terus menjalani berbagai metode kontrasepsi. Krisjiana berpandangan bahwa suami juga dapat mengambil bagian ketika pasangan telah mempunyai keputusan bersama mengenai rencana keluarga. Dari pemikiran tersebut, vasektomi kemudian menjadi pilihan yang dipertimbangkannya. Ia menekankan keputusan tersebut merupakan pilihan pribadi yang dibuat setelah berdiskusi dengan istrinya dan bukan sesuatu yang harus diikuti setiap pasangan.
Ungkapan “rahim istri bukan blind box” digunakan Krisjiana untuk menggambarkan pandangannya mengenai kehamilan. Istilah blind box biasanya merujuk pada barang yang isi atau karakternya baru diketahui setelah kemasan dibuka. Krisjiana menggunakan perumpamaan tersebut untuk menegaskan bahwa tubuh dan rahim perempuan tidak semestinya diperlakukan seperti sesuatu yang dapat terus dicoba tanpa memperhitungkan kesehatan serta kesiapan orang yang menjalaninya. Baginya, setiap kehamilan memiliki proses dan risiko yang harus dipertimbangkan dengan matang. Ia juga menilai keputusan mengenai anak perlu menjadi pembicaraan bersama antara suami dan istri. Karena itu, dirinya memilih terlibat langsung dalam keputusan kontrasepsi keluarga.
Vasektomi merupakan salah satu metode kontrasepsi permanen untuk pria yang dilakukan dengan memutus atau menutup vas deferens, yaitu saluran yang membawa sperma dari testis. Setelah prosedur dilakukan dan dinyatakan efektif melalui pemeriksaan medis, sperma tidak lagi terdapat dalam cairan semen dalam jumlah yang memungkinkan terjadinya pembuahan. Prosedur tersebut tidak menghentikan produksi hormon testosteron dan pada umumnya tidak menghilangkan kemampuan ereksi maupun orgasme. Cairan semen juga tetap dikeluarkan ketika ejakulasi karena sebagian besar volumenya berasal dari kelenjar reproduksi lain, bukan sperma. Namun, vasektomi harus dipandang sebagai metode kontrasepsi permanen sehingga keputusan menjalani tindakan tersebut membutuhkan pertimbangan matang. Konsultasi dengan tenaga medis menjadi bagian penting sebelum seseorang memutuskan menjalani prosedur.
Vasektomi juga tidak memberikan efek kontrasepsi secara langsung sesaat setelah tindakan dilakukan. Sperma masih dapat tersisa di saluran reproduksi selama beberapa waktu sehingga pasangan biasanya tetap perlu menggunakan metode kontrasepsi lain sampai pemeriksaan memastikan tidak ada lagi sperma yang dapat menyebabkan kehamilan. Pemeriksaan semen setelah prosedur menjadi bagian penting untuk menentukan keberhasilan vasektomi. Dokter akan memberikan petunjuk mengenai waktu pemeriksaan dan kapan metode kontrasepsi tambahan dapat dihentikan. Vasektomi juga tidak memberikan perlindungan terhadap infeksi menular seksual. Karena itu, penggunaan kondom tetap dapat diperlukan apabila terdapat risiko penularan infeksi.
Keputusan Krisjiana menjadi perhatian karena kontrasepsi dalam rumah tangga sering kali lebih banyak dikaitkan dengan perempuan. Pilihan yang tersedia bagi perempuan memang lebih beragam, mulai dari pil kontrasepsi, suntikan, implan hingga alat kontrasepsi dalam rahim. Sementara pilihan untuk laki-laki lebih terbatas, terutama kondom dan vasektomi. Dalam konteks pasangan yang sudah yakin tidak ingin memiliki anak lagi, vasektomi dapat menjadi salah satu metode yang dibicarakan bersama tenaga kesehatan. Namun, keputusan tersebut tetap bergantung pada kondisi, kebutuhan dan kesepakatan masing-masing pasangan. Tidak ada satu metode kontrasepsi yang secara otomatis menjadi pilihan terbaik untuk semua orang karena setiap metode memiliki manfaat, keterbatasan dan pertimbangan medis masing-masing.
Krisjiana juga menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai vasektomi dapat dilakukan secara terbuka di antara pasangan. Menurut ceritanya, keputusan tersebut bukan muncul akibat tekanan dari Siti Badriah, melainkan setelah dirinya mempertimbangkan peran sebagai suami dalam perencanaan keluarga. Ia merasa tubuh istrinya telah menjalani proses kehamilan dan persalinan sehingga dirinya dapat mengambil tanggung jawab pada aspek kontrasepsi. Waktu tiga hari yang dibutuhkannya untuk memutuskan bukan berarti prosedur tersebut harus dipertimbangkan dalam waktu sesingkat itu oleh orang lain. Setiap laki-laki tetap perlu memperoleh informasi yang memadai mengenai sifat permanen, prosedur, manfaat dan kemungkinan risiko sebelum mengambil keputusan. Diskusi dengan pasangan serta konsultasi dengan dokter menjadi langkah penting sebelum tindakan dilakukan.
Cerita Krisjiana Baharudin pada akhirnya membuka pembicaraan lebih luas mengenai keterlibatan laki-laki dalam perencanaan keluarga. Keputusannya menjalani vasektomi merupakan pilihan personal yang dibuat bersama Siti Badriah setelah keduanya mempertimbangkan rencana keluarga mereka. Ungkapannya bahwa rahim istri bukan “blind box” menjadi cara Krisjiana menekankan pentingnya mempertimbangkan kesehatan perempuan dalam keputusan mengenai kehamilan. Ia memilih mengambil bagian dalam kontrasepsi setelah merasa jumlah anak dalam keluarganya telah sesuai dengan rencana bersama. Meski demikian, vasektomi merupakan tindakan yang dirancang sebagai kontrasepsi permanen sehingga tidak semestinya diputuskan hanya berdasarkan pengalaman orang lain. Bagi pasangan yang mempertimbangkannya, konsultasi medis dan kesepakatan bersama tetap menjadi dasar penting sebelum mengambil keputusan.




