Jakarta, 28 Juli 2026 – Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya bergairah membuat sejumlah perusahaan semakin berhati-hati dalam melakukan ekspansi dan menambah tenaga kerja, tetapi kebutuhan terhadap karyawan yang memiliki kompetensi di bidang keberlanjutan menunjukkan kecenderungan tetap stabil. Posisi yang berkaitan dengan lingkungan, sosial, tata kelola, efisiensi sumber daya, hingga pelaporan keberlanjutan masih dibutuhkan karena perusahaan menghadapi tuntutan bisnis dan regulasi yang terus berkembang. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa fungsi keberlanjutan mulai bergeser dari sekadar agenda tambahan menjadi bagian dari strategi dan pengelolaan risiko perusahaan. Bahkan ketika perekrutan pada sejumlah bidang harus disesuaikan dengan kondisi ekonomi, kebutuhan terhadap tenaga profesional yang mampu menangani agenda keberlanjutan tidak serta-merta menghilang. Stabilitas tersebut menjadi gambaran perubahan kebutuhan dunia kerja ketika perusahaan semakin memperhitungkan dampak lingkungan dan sosial dalam menjalankan bisnis.
Perusahaan pada dasarnya menghadapi tekanan untuk menjaga efisiensi ketika pertumbuhan ekonomi melambat, sehingga setiap penambahan tenaga kerja harus memberikan manfaat yang jelas terhadap operasional. Dalam kondisi seperti ini, posisi baru yang tidak berkaitan langsung dengan kebutuhan strategis dapat mengalami penundaan atau evaluasi lebih ketat. Namun, pekerjaan di bidang keberlanjutan memiliki karakter berbeda karena sebagian tanggung jawabnya berkaitan dengan kepatuhan, pengelolaan risiko, kebutuhan investor, reputasi, dan tuntutan rantai pasok. Perusahaan tertentu juga harus menyiapkan data mengenai penggunaan energi, emisi, pengelolaan limbah, serta berbagai indikator lingkungan dan sosial lainnya. Kebutuhan tersebut membuat tenaga yang memahami keberlanjutan tetap memiliki ruang meskipun perusahaan menerapkan kebijakan perekrutan yang lebih selektif.
Perubahan kebutuhan tenaga kerja juga terlihat dari semakin luasnya kompetensi yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi keberlanjutan. Perusahaan tidak hanya mencari kandidat yang memahami isu lingkungan secara umum, tetapi juga tenaga yang mampu mengolah data, menyusun laporan, memahami tata kelola, melakukan penilaian risiko, serta berkomunikasi dengan berbagai bagian organisasi. Kemampuan tersebut diperlukan karena agenda keberlanjutan dapat melibatkan operasional, keuangan, sumber daya manusia, pengadaan, teknologi, hingga manajemen puncak. Seorang profesional di bidang ini harus mampu menerjemahkan target perusahaan menjadi program yang dapat dilaksanakan sekaligus mengukur hasilnya secara objektif. Kombinasi pengetahuan teknis dan pemahaman bisnis akhirnya menjadi salah satu faktor penting dalam kebutuhan rekrutmen.
Dorongan terhadap praktik lingkungan, sosial, dan tata kelola juga membuat perusahaan perlu memiliki tenaga yang mampu memastikan komitmen keberlanjutan tidak berhenti pada pernyataan. Target pengurangan emisi, penggunaan energi yang lebih efisien, pengelolaan limbah, keselamatan pekerja, hingga hubungan dengan masyarakat membutuhkan data dan mekanisme evaluasi yang jelas. Kesalahan dalam menyampaikan informasi keberlanjutan dapat menimbulkan risiko reputasi apabila klaim perusahaan tidak sesuai dengan pelaksanaan di lapangan. Karena itu, tenaga profesional yang mampu melakukan pengukuran dan memastikan informasi dapat dipertanggungjawabkan semakin relevan. Kebutuhan tersebut tetap ada bahkan ketika perusahaan sedang menekan biaya karena risiko dari pengelolaan keberlanjutan yang buruk dapat memberikan konsekuensi dalam jangka panjang.
Stabilnya rekrutmen tidak berarti seluruh posisi keberlanjutan berkembang dengan kecepatan yang sama. Perusahaan tetap menyesuaikan kebutuhan berdasarkan sektor, ukuran bisnis, prioritas investasi, serta kewajiban yang mereka hadapi. Industri dengan penggunaan energi tinggi, rantai pasok kompleks, atau dampak lingkungan besar dapat membutuhkan kemampuan yang berbeda dibandingkan perusahaan berbasis layanan. Ada pula perusahaan yang tidak membentuk tim khusus dalam jumlah besar, tetapi memasukkan tanggung jawab keberlanjutan ke fungsi yang sudah ada. Perubahan tersebut membuat kandidat semakin membutuhkan kemampuan lintas bidang karena pekerjaan keberlanjutan dapat terhubung langsung dengan strategi bisnis dan bukan hanya menjadi tanggung jawab satu divisi.
Bagi pencari kerja, perkembangan ini membuka peluang sekaligus meningkatkan standar kompetensi yang dibutuhkan. Latar belakang pendidikan lingkungan dapat menjadi modal, tetapi perusahaan juga dapat membutuhkan kandidat dari bidang keuangan, teknik, hukum, komunikasi, teknologi, maupun manajemen yang memiliki pemahaman mengenai keberlanjutan. Kemampuan membaca dan mengolah data menjadi semakin penting karena banyak target harus diukur berdasarkan indikator yang dapat dibandingkan dari waktu ke waktu. Pemahaman mengenai regulasi dan standar pelaporan juga memberikan nilai tambahan bagi kandidat yang ingin memasuki bidang tersebut. Pengalaman mengelola proyek serta kemampuan berkoordinasi dengan banyak pemangku kepentingan dapat semakin memperkuat posisi kandidat dalam proses seleksi.
Tren tersebut juga memperlihatkan bahwa agenda keberlanjutan mulai terintegrasi dengan keputusan bisnis yang lebih luas. Efisiensi penggunaan energi, misalnya, dapat membantu perusahaan mengurangi biaya sekaligus mendukung target lingkungan. Pengelolaan bahan baku dan limbah yang lebih baik juga dapat memberikan dampak terhadap produktivitas serta risiko operasional. Sementara itu, praktik tata kelola yang kuat membantu perusahaan mengurangi berbagai risiko yang dapat memengaruhi keberlangsungan usaha. Ketika manfaat keberlanjutan dapat diterjemahkan menjadi efisiensi, kepatuhan, ketahanan bisnis, dan akses terhadap peluang baru, kebutuhan terhadap tenaga profesional di bidang tersebut menjadi lebih mudah dipertahankan meskipun kondisi ekonomi menghadapi tekanan.
Stabilnya rekrutmen karyawan keberlanjutan di tengah ekonomi yang lesu pada akhirnya menunjukkan perubahan cara perusahaan melihat fungsi tersebut dalam organisasi. Perekrutan mungkin berlangsung lebih selektif dan setiap posisi harus memiliki kontribusi yang semakin terukur, tetapi kebutuhan terhadap kompetensi lingkungan, sosial, tata kelola, pengelolaan data, dan mitigasi risiko tetap memiliki tempat dalam strategi perusahaan. Kondisi ini memberikan peluang bagi tenaga kerja yang mampu menggabungkan pengetahuan keberlanjutan dengan pemahaman bisnis serta kemampuan teknis yang relevan. Bagi perusahaan, investasi terhadap talenta tersebut dapat menjadi bagian dari persiapan menghadapi perubahan regulasi, tuntutan pasar, dan kebutuhan efisiensi jangka panjang. Perkembangan berikutnya akan memperlihatkan apakah stabilitas perekrutan ini berlanjut menjadi pertumbuhan yang lebih kuat ketika kondisi ekonomi membaik dan agenda keberlanjutan semakin terintegrasi dalam kegiatan bisnis sehari-hari.





