Jakarta, 27 Mei 2026 – Kreator konten dan publik figur Ria Ricis membagikan momen saat mengajak putrinya, Moana, menyaksikan proses penyembelihan hewan kurban dalam perayaan Iduladha 1447 Hijriah. Momen tersebut menarik perhatian publik karena Ricis menjelaskan bahwa dirinya ingin mengenalkan nilai keikhlasan, rasa syukur, dan kepedulian sosial kepada anak sejak usia dini melalui pengalaman langsung di lapangan. Dalam suasana penyembelihan kurban yang berlangsung bersama keluarga dan lingkungan sekitar, Moana terlihat mendampingi ibunya sambil diperkenalkan pada proses ibadah kurban dengan pendekatan yang lembut dan penuh penjelasan sederhana. Ricis menilai penting bagi anak untuk memahami bahwa Iduladha bukan hanya tentang hewan kurban, tetapi juga mengenai makna berbagi dan pengorbanan untuk membantu sesama. Unggahan dan cerita tersebut kemudian ramai diperbincangkan di media sosial karena dianggap sebagai bentuk pendidikan keluarga yang dekat dengan nilai keagamaan dan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Menurut Ria Ricis, dirinya sengaja mengajak Moana melihat langsung proses kurban agar anak tidak merasa asing terhadap tradisi keagamaan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan umat Muslim. Ia menjelaskan bahwa anak-anak sebaiknya diperkenalkan secara perlahan mengenai nilai ibadah dan empati sosial melalui pengalaman nyata, bukan hanya penjelasan teori semata. Dalam proses tersebut, Ricis juga berusaha memberikan penjelasan dengan bahasa yang mudah dipahami anak agar tidak menimbulkan rasa takut atau kebingungan. Banyak warganet memberikan tanggapan positif terhadap pendekatan yang dilakukan Ricis karena dinilai membantu anak memahami nilai kehidupan dan rasa peduli kepada sesama sejak kecil. Tidak sedikit pula orang tua yang mengaku mulai mempertimbangkan cara serupa untuk mengenalkan tradisi Iduladha kepada anak-anak mereka dengan pendekatan yang lebih edukatif dan penuh pendampingan.
Pengamat psikologi anak menjelaskan bahwa pengenalan nilai keagamaan dan sosial sejak dini memang penting dilakukan melalui pengalaman yang sesuai dengan usia anak. Anak-anak cenderung lebih mudah memahami konsep empati, berbagi, dan rasa syukur ketika melihat langsung praktik dalam kehidupan sehari-hari bersama keluarga. Namun demikian, pengenalan terhadap proses penyembelihan hewan juga perlu dilakukan dengan pendekatan yang hati-hati agar anak merasa aman dan mendapatkan penjelasan yang tepat sesuai tahap perkembangan emosional mereka. Pendampingan orang tua dianggap menjadi faktor utama dalam membantu anak memahami makna di balik kegiatan tersebut, bukan sekadar melihat proses fisiknya saja. Pengalaman seperti ini dinilai dapat membantu membangun sensitivitas sosial dan nilai kemanusiaan anak sejak usia dini apabila dilakukan dengan komunikasi yang baik.
Di sisi lain, pengamat sosial budaya menilai momen keluarga publik figur saat memperkenalkan tradisi keagamaan kepada anak sering mendapat perhatian besar karena dianggap dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Kehadiran media sosial membuat banyak orang tua kini saling berbagi pengalaman mengenai pola pengasuhan dan pendidikan nilai moral dalam keluarga. Tradisi Iduladha sendiri selama ini memang sering menjadi ruang pembelajaran sosial bagi anak-anak karena melibatkan aktivitas berbagi, kebersamaan, dan gotong royong di lingkungan masyarakat. Banyak anak yang sejak kecil mulai mengenal proses kurban melalui keterlibatan keluarga dan lingkungan sekitar selama perayaan berlangsung. Oleh sebab itu, pendekatan yang dilakukan secara terbuka, hangat, dan edukatif dinilai penting agar anak memahami nilai spiritual dan sosial dari tradisi tersebut secara lebih mendalam.
Momen Ria Ricis mengajak Moana menyaksikan penyembelihan hewan kurban memperlihatkan bagaimana orang tua mulai memanfaatkan pengalaman sehari-hari sebagai sarana pendidikan nilai kehidupan bagi anak. Perayaan Iduladha tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga kesempatan memperkenalkan makna keikhlasan, kepedulian sosial, dan rasa syukur sejak usia dini. Banyak masyarakat menilai pendekatan yang dilakukan dengan pendampingan dan komunikasi yang baik dapat membantu anak memahami tradisi keagamaan tanpa rasa takut maupun tekanan. Di tengah perkembangan pola pengasuhan modern, keterlibatan langsung anak dalam aktivitas sosial keluarga dianggap penting untuk membangun karakter dan empati sejak kecil. Dengan pendidikan yang penuh kedekatan emosional dan nilai kemanusiaan, keluarga diharapkan mampu menjadi ruang pertama bagi anak dalam memahami makna berbagi dan kepedulian terhadap sesama.





